Ketandan yang merupakan salah satu daerah yang masuk dalam peta kota
Surabaya tidak secara khusus disebut dalam satu atau beberapa
tulisan yang selama ini ada, bahkan Kota Surabaya pun dalam beberapa
catatan yang telah kami baca ataupun dari beberapa sumber yang kami
ketahui, tidak ada satupun yang secara jelas menyebutkan hubungan
sejarah antara Surabaya dengan Majapahit, walaupun dalam beberapa
hal Surabaya dikaitkan dengan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan
Majapahitn tahun 1293.
Pun di Surabaya tidak ditemukan sama sekali artefak, candi ataupun
lainnya yang menceritakan hubungan anatara Surabaya dengan
majapahit,
Surabaya yang konon merupakan Hujung Galuh dalam cerita sejarah
Majapahit, memang hanya sebagai pelabuhan tempat perhubungan antar
benua dan tentunya bnetuk pelabuhannya tidak seperti sekarang ini,
dahulu hanya pelabuhan perahu dan kapal layar.
Dalam sebuah catatan Surabaya ini dibangun oleh kearifan lokal
orang-orang Surabaya, dibangun tidak hanya memburu estetika tetapi
ada pertimbangan spirit energi alam, keseimbangan antara kekuatan
pertanahan, aktivitas dagang, dan spiritualisme jawa sehingga
membuat Belanda kagum dan menjulukinya dengan Amsterdam from the
east, kembaran Amsterdam dari timur, yang menggambarkan betapa kota
ini dibangun dengan penataan yang matang.
Masih dalam catatan yang sama, Surabaya merupakan kota kerajaan
dimana hal tersebut dibuktikan dengan masih ditemukan beberapa nama
tempat yang mendukung adanya sisa kerajaan yang berpusat di Kraton,
yang kini diapi Jl. Kramatgantung dan Jl. Pahlawan denga pusatnya
Alon-alon yang kini sudah menjadi kantor bank Indonesia.
Dalam catatan inilah baru muncul nama-nama kampung yang sampai
sekarang beberapa nama tersebut masih terlihat keberadaannya,
seperti Kampung Temenggungan, Maspati yang merupakan tempat
pemukiman para pejabat Kraton, atau sebut saja Bubutan yang dalam
bahasa portugis itu berarti Butotan, pintu menuju keraton.
Dari nama kampung-kampung yang ada tersebut barulah disini muncul
nama KETANDAN yang dimasa lampau disebut KETANDANG atau Perang
Tandang, disinilah barak tempat para prajurit Kraton tinggal, apakah
memang demikian Ketandan yang kita ketahui ini adalah dulunya tempat
para prajurit kraton tinggal dan menempati daerah ini ? Kita belum
bisa membuktikannya.